Slankers Abal-Abal

Pengalaman paling intim saya dengan SLANK adalah ketika SMA kelas 1. Sekitar tahun 2012 saya menonton SLANK di stadion Tambaksari bersama dua teman SMA. Satu adalah fans berat PADI, satu lagi SLANKERS seperti saya. Saya masih ingat betul atribut yang saya pakai. Memakai kaus SLANK warna hitam nan ketat, celana jeans panjang yang sengaja saya potong menjadi tiga per empat, pakai slayer biru, dan bersepatu pro ATT warna hitam.

Tiket kami beli dari uang saku yang seminggu sebelum konser, kami sisihkan. Ketika pintu stadion dibuka, kami mulai pelan-pelan merangsek masuk ke depan. Alhamdullilah, tiket yang kami beli ditukar dengan rokok. Kala itu SLANK masih disponsori oleh rokok. Saya lupa merk rokoknya. Sudah masuk, kami mulai mencari celah untuk menempati posisi paling dekat dengan panggung. Berdiri nan berdempetan tentu saja hal yang biasa. Nonton konser dengan duduk adalah hal tabu bagi saya di jaman dulu. Singkat cerita, sepanjang konser kami bertiga meloncat; menyanyi; bertepuk tangan; merokok sambil joget; menyalakan korek saat lagu slow dibawakan; menjalankan perintah bim-bim untuk menyanyi bersamanya; menundukkan kepala saat semprotan air disemburkan (kami yakin air yang digunakan adalah air kotor karena baunya nauzubillah busuk!); dan berteriak lagi-lagi-lagi saat SLANK berhenti bermain.

Pengalaman yang membuat saya ingin terus mengulanginya lagi dan lagi. Namun, cerita paling konyol adalah ketika konser usai. Kami bertiga bersantai di depan stadion, sembari minum es dan merokok sampai seluruh penonton bubar semua. Kemudian, kami berjalan ke arah pacarkeling, rumah teman saya yang SLANKERS. Kami melewati gang yang tepat di samping stadion Tambaksari. Eh, ada bus SLANK yang standby di sana. Dengan pintu terbuka dan lampu dalam bus menyala. Tampak seluruh personel SLANK berada di dalamnya. Ini kesempatan baik bagi kami. Tak pikir lama, kami lari dan masuk ke dalam bus. Kami harus dapat kenangan manis. Terlintas untuk minta tanda tangan pada mereka. Sial, baju kami bertiga basah, tak ada spidol yang kami bawa. HP yang kami punyai masih belum ada kameranya.

Nasib kami apes betul-betul. Hanya aktivitas salaman, rangkulan serta tos-tosan saja yang kami dapat sebagai bukti kenangan fisik bertemu dengan SLANK. Tak apalah, setidaknya itu memori terindah dan paling intim dengan SLANK. Kami bertiga pulang dengan bahagia dan merencanakan cerita untuk dibagi pada teman-teman lain di sekolah.

Tautan di bawah ini adalah salah satu cerita lain soal SLANK. Tepatnya sih soal gang Potlot, kebetulan SLANK tinggal di sana. Saya belum pernah berkunjung ke gang Potlot. Hanya mengetahui suasananya lewat YouTube, lewat lagu lawas mereka; “Kalau kau ingin jadi pacarku”. Dulu saya ingin sekali pergi ke sana. Kalau sekarang? Ya masih ingin donk. Ingin banget malah! Sumpah deh. Ada yang mau ngongkosin?

Tautannya bisa anda klik di sini: baca deh!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s