Gulai Kambing Kacang Hijau Kampung Arab

Dua hari (14 dan 15 Oktober 2017) ini saya relaksasi dan refreshing tubuh ke masjid di Surabaya. Hari Jumat, saya menghabiskan waktu Maghrib di Masjid Muhammad Cheng Hoo. Masjidnya kecil, pelatarannya besar. Pas kesana sedang ada perayaan ulang tahun Masjid. Arsitektur Masjid mirip kuil-kuil di China. Namun, instrumen dan instalasi Islam, nampak terlihat lebih baik dan jelas di sana. Sayang saya lupa menjepretnya. Takut Riya’.

Hari Sabtu malam minggu ini saya habiskan di Kampung Ampel Surabaya. Tak ke masjidnya sih. Cukup ke tempat kuliner khasnya. Saya mampir ke Depot Al-Mutlik. Awalnya saya kira empunya warung makan adalah orang Arab, ternyata salah. Yang njaga adalah Tacik dan dua pelayan berlogat Madura. Hmmm… Ya, tak apalah, yang penting saya mencicipi makanan kambing di sana.

Saya memesan Gulai Kambing Kacang Hijau, kopi rempah dan sebotol Aqua dingin. Surabaya sedang panas-panasnya seminggu ini. Partner saya memesan kebab sapi, sebab ia tak suka kambing. Untunglah dia mau menemani dan tak muntah saat melihat sajian kambing.

Gulai Kambing Kacang Ijo dan Kopi Arab

Sengaja saya pesan sajian Gulai Kambing Kacang Hijau, mengingat hari ini di Jakarta ada kegiatan di kediaman Cak Rusdi. Saya turut merayakannya dengan memakan salah satu sajian kesukaannya. Terus berjuang keras dan melawan kanker, Cak!

Sajian yang saya pesan kuahnya bening, namun setelah saya aduk, nampak terlihat lebih keruh, dimana campuran kacang hijau dan bumbu-bumbu rahasia terserap larut ke kuahnya. Saya seruput sekali, dua kali, tersenyum sebentar, lalu seruput lagi. Kuahnya gurih sekaligus segar. Tak terlampau manis. Saya peras jeruk nipis dan taburi sambelnya, dan saya aduk rata. Pedasnya pas, tak merusak cita rasa segar kuahnya. Lanjut ke dagingnya, tak perlu garpu, saya tusuk pelan dengan sendok, dagingnya empuk, mudah digigit dan rasanya….. Tiba-tiba saya teringat sajian ini pertama kali mencicipinya. Tempatnya sama di Kampung Arab Ampel Surabaya. Saya mencicipinya pertama kali saat kelas satu SMA. Tepatnya di rumah salah satu kawan lama, anaknya keturunan Arab dan sudah sejak kecil tinggal di Ampel. Sensasi rasanya menggigit daging kambing gulai Kacang Hijau membuat saya mengingat kembali kenangan masa SMA.

Makan segini cuman butuh waktu 5 menit untuk mentandaskannya

Oh iya, sebenarnya hari kamisnya saya menghabiskan waktu di daerah Sunan Maulana Malik Ibrahim, Gresik. Saya mencicipi kopi tubruk di warung Cak Doel, pertelon BC. Cangkir keramik kecil yang khas dengan gagang nb yang sengaja dipatahkan. Kopinya hanya cukup untuk dua kali tuangan di lepek. Namun, rasanya sungguh nikmat. Kopi kental, tak manis dan tak pahit, tak ada rasa gosong. Benar-benar clean kalau kata cupper. Tapi aftertastenya sungguh melenakan.

Tiga hari yang sungguh sangat religius bagi saya. Tepatnya mengunjungi daerah tempat wisata religi. Semoga aktivitas ini mengubah saya menjadi seorang pemuda yang lebih baik lagi dalam beribadah. Amin!

Besok makan apa lagi ya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s