Kopi Lanang Arabika Blue Tamblingan

Hari kedua di Pojok Don Biyu. (14 September 2017)

Hari ini saya habis dua piring bubur tepeng. Pertama, bubur tepeng khas pasar dekat penginapan yang saya tinggali sementara ini. Pagi betul, saya dan Nody menghabiskannya. Agak siang dikit, ada penjual bubur datang ke tempat kami, menawarkan bubur tepeng lagi. Penjual bubur keliling ini, termasuk jarang sekali datang dan menjajakan dagangannya ke tiap rumah yang ada di daerah Munduk, Bali. Durasi dan tindakan menjual yang kadang tak bisa ditebak itulah yang membuatnya sedikit spesial. Bagaimana dengan rasa sajiannya?

Baeklah…
Saya minta maaf tak sempat memfotonya, pertama disajikan di atas meja, nafsu makan saya tiba-tiba naik dua kali lipat dari biasanya. Sendok garpu saya asah dulu, demi kenyamanan saat memakannya. Bubur sengaja tak saya aduk rata, apalagi menambahkan kecap asin, sambal dan juga kuah tambahan. Perlakuan ini khusus saya lakukan hanya saat menyantap bubur tepeng. Kenapa? Ya, pelengkap yang saya sebut itu hanya ada di bubur ayam pinggir jalan atau depan RS biasa untuk mengisi perut saat pagi menunggu warung-warung makan buka. Sementara, sajian bubur tepeng, sudah tak perlu lagi ditambah pelengkap cita rasa apapun. Dia sudah cukup lezat tak perlu ditambah dengan kepalsuan lainnya. Aih, Taek, Kik!

Sendok makan pertama saat tiba di mulut, saya memejamkan mata. Sendok kedua, saya tetap merem. Sendok ketiga, saya tahan sejenak dan menatap sajian bubur di hadapan saya. Ini bubur apa sih. Rasanya membuat saya ingin menikmati bubur pelan-pelan saja, sambil membayangkan rasa bubur terenak terakhir yang pernah saya makan. Saya coba ingat-ingat suasananya, apakah sama dengan suasana makan saya siang ini. Bubur terakhir terenak saya makan saat berada di Bandung, di depan pintu gerbang Kampus ITB. Pagi betul saya nikmati, selepas ibadah salat Subuh dan aktivitas run-run cilik di depan ITB. Saat kalori dibakar dan keringat keluar secara alamiah, perut saya tiba-tiba menemukan warung bubur. Insting kadang bisa dipercaya, warung bubur tak sengaja itulah, yang ternyata membuat saya merasakan sensasi rasa bubur ayam kampus terenak. Lanjut ke bubur tepeng.

Isi bubur tepeng ini sangat variatif. Ada kacang, kedelai, sayur, singkong, kuah kaldu yang bening dan bubur tentu saja. Kuahnya bening, tapi ketika diseruput rasanya meledak di lidah. Ada bermacam jenis rempah yang luber di mulut. Kental, tebal nan pedas tapi tak menggigit. Juga ada sedikit asin menyegarkan. Ketika mencicipi bubur dengan kuah nan lengkap beserta sayur kacang dan sambal yang sudah ditaburkan di atasnya tiba-tiba mata refleks memejam dan muncul sosok Pevita Pearce yang mengucap: Sayang, kamu mau dibikinin sarapan apa pagi ini. Sana mandi dulu, baju sudah kusiapkan di atas meja. Sensasi nyata seperti itu yang saya dapatkan saat mencicipi bubur tepeng. Perlu waktu sekitar 15menit bagi saya untuk menghabiskan satu porsi bubur. Sementara mas PEA dan Nody sudah leyeh-leyeh sambil mengkretek.

Mas PEA hanya tersenyum melihat tingkah laku makan saya sambil berujar: Ini bubur tepeng terenak se-Munduk! Sementara Nody hanya ngowoh dan membiarkan sisa bubur dan kuah menempel di seluruh bibir dan mulutnya. Makanan enak susah untuk dijelaskan rigid soal detail rasanya. Hanya tingkah laku dan sikap pemakannya. Saya ketagihan. Besok saya pasti mencobanya lagi, dan penasaran sensasi apa yang akan terjadi besok. Semoga Ibu itu datang lagi.

Peaberry Kopi Blue Tamblingan cocok diminum sehabis menyantap Bubur Tepeng

Sensasi hari ini bertambah kala saya menyeruput kopi peaberry Arabika Blue Tamblingan. Yawlaaaa, terimakasih atas nikmat hidup yang kau berikan padaku. Peaberry Arabika Blue Tamblingan ini tersedia hanya di Pojok Don Biyu, Bali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s