Nama

Saya sering diejek perkara ini. Nama panjang saya terlalu aneh bagi ‘kebanyakan’ orang. Nama lengkap saya: Rizki Akbari Savitri. Sepintas nama ini cocok untuk dipakai oleh seorang perempuan. Padahal saya laki-laki.

Awalnya saya sempat berniat mengganti nama tersebut menjadi Muhammad Rizki Saputra. Nama ini saya pilih agar tampak lebih normal dan diterima di semua lingkungan perkawanan saya. Namun hal itu urung saya lakukan. Menyandang nama Muhammad terasa begitu berat, walau tampang alim sudah terpancar jelas di wajah saya.

Wajah saya memang pantas untuk dikagumi nan dicintai yhaaa

Jalan kedua yang dulu sering saya lakukan adalah menyingkat nama tengah dan belakang menjadi Rizki AS. Ketika ditanya apa itu AS, saya biasa menjawab asal-asalan, kadang Arek Slankers, Amerika Serikat, Arek Suroboyo, sekena saya yang penting pas. Kalo masih ngeyel mencari tahu, saya selalu menjawab Akbari Slankers. Saya dulu benar-benar menyukai Slank. Trik ini tak bertahan lama. Tiap kali guru mengabsen, nama lengkap saya selalu ketahuan. Dulu di sekolah, hanya beberapa guru yang masih suka mengabsen murid dengan memanggil nama lengkapnya.

Akhirnya saya mulai melakukan hal yang biasa dilakukan banyak orang keminter, yakni memberikan arti khusus alias makna yang terkandung pada nama ini. Ilmu keminter tentu saja ilmu sok tahu, sok utak-atik awur yang saya lakukan. Rizki, saya artikan sebagai rejeki, atau berkah, atau mudahnya karunia. Sedang Akbari, saya maknai besar, dan Savitri adalah kembali ke fitrah. Saya lahir bertepatan pada momen hari raya Idul Fitri.

Utak-atik awuran keminter makna nama ini selalu saya pakai tiap kali berkenalan dengan kawan baru. Atau saat kawan lama benar-benar ingin tahu kenapa nama saya bisa seperti itu. Agar ia ngeh, bahwa nama saya tak seperti nama kebanyakan orang. Bahwa nama kadang menipu jenis kelamin. Bahwa nama adalah doa yang dipanjatkan dan ditularkan agar benar-benar terwujud nantinya.

Akan tetapi itu semua usang ketika saya diberitahu arti sebenarnya dari nama yang melekat sedari lahir ini. Rizki ternyata benar berarti rejeki, berkah atau karunia. Savitri juga benar, artinya kembali ke fitrah merujuk ke hari kelahiran saya saat Idul Fitri. Sedangkan Akbari bukan berarti besar melainkan akronim dari Abdul Karim dan Rivai. Nama Bapak dari kedua orang tua saya.

Bapak dan Ibu saya sengaja menamai Akbari sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada Bapak mereka. Saya lahir dan dibesarkan di Surabaya, sedang Bapak dan Ibu saya asli dari Palembang, dan pergi merantau setelah resmi menikah pada tahun 1984. Saya tak pernah tahu bagaimana rupa kakek-kakek saya tersebut. Padahal nama yang saya bawa adalah nama mereka. Saya merasa berdosa dan menyesal baru mengetahui kenyataan ini. Hal yang bisa saya lakukan saat ini adalah terus mendoakan kedua Kakek saya tersebut dan mencari tahu sedikit demi sedikit kisah hidup mereka. Kisah hidup kakek sangatlah penting untuk saya ketahui, untuk bisa saya jadikan teladan agar saya tak tersesat nanti ke depannya. Tentu juga, agar saya tak melakukan hal-hal yang bisa merusak nama baik keluarga. Saya harus benar-benar banyak belajar lagi soal asal-usul keluarga, soal tanah kelahiran orang tua, tradisi dan banyak hal lainnya. Mempelajari hal ini sudah sepatutnya dilakukan dan dilaksanakan oleh anak sulung seperti saya. Menjadi anak sulung ternyata membuat hidup saya tak bisa sembarangan dan semena-mena. Oh, beratnya hidup ini Tuhan YME.

Dari hal-hal di atas ini saya sekarang kebingungan memikirkan soal bagaimana nantinya menamai anak saya kelak.

Nikah saja belum, sudah bingung mencari nama anak. Howalah, Kik…Kik…

Advertisements

Gelang

Sedari SMP saya suka memakai gelang. Awalnya adalah karet bekas nasi bungkus, saya gunakan sebagai gelang. Kemudian, berlanjut ke pita rambut teman-teman perempuan saya. Karet dan pita rambut tersebut saya pakai hingga kulit pergelangan tangan saya membekas hebat, karena saking ketatnya itu gelang. Ketika sudah membekas itu barulah gelang tersebut saya lepas. Tren gelang kemudian beralih ke karet drum, saya pun ikut-ikutan memakainya. Pernah sampai 10 gelang karet drum saya pakai selama seminggu. Sialnya kulit saya jadi gatal-gatal. Dan gelang karet drum tersebut saya lepaskan untuk selamanya.

Berlanjut ke masa SMA, kesukaan memakai gelang saya tinggalkan sejenak. Aktivitas meramu, meracik puyer, membuat kapsul, hingga membuat larutan farmasi membuat saya takut memakai gelang. Kalau ada zat kimia yang tertinggal di gelang, kulit saya bisa jadi tak seputih sekarang. Beraktivitas dengan zat-zat kimia yang reaktif butuh tindakan yang hati-hati.

Lulus SMA, dan lanjut kuliah, saya mulai memakai gelang lagi. Gelang yang saya pakai kebanyakan kepunyaan adik dan Ibu saya. Gelang bunder-bunder kecil sederhana tanpa manik-manik itu incaran saya. Lamat laun kebiasaan memakai gelang gratisan ini saya ubah.

Masa kuliah adalah masa bersenang-senang bagi saya. Bukannya fokus menyelesaikan studi, saya justru bermain dan berjalan-jalan ke beberapa daerah di Indonesia. Kesempatan jalan-jalan ini selalu saya manfaatkan untuk berburu gelang. Satu hingga dua gelang selalu saya beli di tempat yang saya singgahi.

Ada satu gelang yang cukup punya kenangan istimewa bagi saya. Gelang kayu diubet-ubetkan langsung ke tangan pemiliknya. Gelang ini saya dapatkan dari Banjarmasin. Tepatnya di pedalaman, di suku Dayak di sana. Gelang ini masih saya pakai hingga sekarang.

Gelang lainnya, saya beli di pusat souvenir di beberapa tempat. Ada dari Malang, Bromo, Semeru, Jogja, Martapura, dan sisanya diberi oleh kawan-kawan baik saya.

Gelang yang saya pakai ini terus bertambah hingga saat ini. Gelang yang tak pernah saya lepas ketika beraktivitas harian. Oh, ada satu momen yang mengharuskan saya mencopot seluruh gelang ini. Saat saya sedang melangsungkan ujian akhir semester, dua tahun lalu di bangku kuliah. Aturan yang mengharuskan laki-laki tak boleh berpenampilan seperti perempuan, dan berlaku juga sebaliknya.

Gegara aturan ini, saya menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk mencopot seluruh gelang yang melekat di tangan saya.

Total ada 13 gelang yang terpakai di pergelangan tangan saya yang putih ini. Saya pun masih akan menambah jumlah gelang di tangan ini hingga nanti berjumlah 27. Kenapa harus 27? Karena setelah 26 adalah 27. Itu.

Jumlahnya ada 13 gelang yang saya pakai hingga saat ini

Bagi kawan-kawan yang punya gelang spesial dan jarang ada di pasaran, jangan sungkan-sungkan menghubungi saya. Niscaya saya beli. Kalau dikasih gratisan ya Alhamdulillah. Hehehe….

Mencicipi Kopi Wonosobo (Part 2)

Kiriman kedua kopi rahasia saya coba kemarin. Rasanya tak terlalu kuat seperti kopi pertama yang saya coba. Kopi kedua ini bijinya agak lonjong dan sedikit besar. Saya tebak ini pasti Arabika. Oh, iya si pengirim kopi rahasia ini akhirnya membalas japrian saya.

Namanya mas Akhmad Zaen. Masih muda dan berkuliah. Zaen ini baru pertama mencoba memproduksi kopi asal daerahnya. Minumkopi berkesempatan mencicipi produksi pertamanya. Kedua kopi yang ia kirim berasal dari Desa Slukatan, Mojotengah, Wonosobo.

Kopi pertama yang saya cicipi sesuai status di bawah ini adalah kopi Lanang. Sedang kopi keduanya yang saya cicipi kemarin adalah kopi Arabika. Tipikal rasa keduanya hampir mirip. Cuman rasa kopi Lanang sedikit nendang di lidah saya. Ketika saya tanyai lebih lanjut kepada Zaen, kopi produksi pertamanya ini masih perlu diperbaiki.

Proses pasca panen kopi kirimannya adalah metode fullwash, di roasting medium di tempat temannya, dengan mesin roasting kapasitas kecil, hanya satu kilogram. Roasting yang sudah cukup bagus, karena keseragaman warna kopi yang dihasilkan. Dapat anda lihat di bawah ini.

Secara rasa, kopi Arabika dari Desa Slukatan Mojotengah Wonosobo ini punya potensi cita rasa yang khas. Aromanya wangi, dan rasa yang yang keluar ada manis, asam dan pahit. Tinggal bagaimana proses pengolahan kopi yang akan dipilih. Saya kira metode ini bisa diutak-atik oleh Zaen. Begitupun dengan profil roasting, Zaen masih kurang nyaman dengan hasil roasting manualnya. Rasa kopinya masih kurang nendang apabila memakai rasio penyeduhan 1: 15, perlu lebih banyak memakai kopi, dengan rasio sekitar 1:10. Tentu anda bisa mencobanya sendiri, karena rasa kopi yang dihasilkan tiap-tiap orang tentu berbeda. Soal rasio kopi ini tiap orang bisa berbeda-beda loh. Tak bisa dijadikan patokan standar. Mengapa? Yah karena faktor air yang digunakan, suhu air, gilingan kopi, serta metode seduh. Percayalah, menyeduh kopi masa kini sudah terlalu banyak cara, tinggal anda sreg, dan banyak bereksperimen. Bahkan cara menyeduh kopi tubruk pun ada banyak pilihannya. Gak percaya nih. Yawdh c gpp.

Bagi yang ingin menikmati rasa dan memesan kopi produk dari Desa Slukatan Mojotengah Wonosobo bisa menghubungi akun Twitter Akhmad Zaen di @xsuren

Bagi Anda yang punya produk kopi dan ingin memperkenalkan pada publik, bisa menghubungi minumkopi.com jangan sungkan, dan tak dipungut biaya.