Pisang Goreng (gosong) Tanpa Kepalsuan

Sebelum tidur di waktu dini hari saya biasa makan remeh. Makan makanan ringan, kadang Indomie, kadang telur matang, atau juga buah. Semuanya tanpa nasi. Ya kalau pakai nasi bukan makan remeh, tapi makan ramah. Yha, ramah, Ra mashooook! Hmmm, apa sih. Kebetulan dua hari lalu, entah ada setan atau memang Kepala Suku sedang baik-baiknya. Saya dibikinin makanan remeh. Berikut percakapannya:

PEA: Sek Kik, ojo turu sek, tak masakno pisang goreng.

Iya mas. Ini lagi mbalesi chat para fans.

PEA: Guayamu Kik. Tak masakno spesial gawe kon mbek Adit.

Ok mas, ojok suwe-suwe loh. Seng penting enak rasane.

Kebetulan malam itu saya dan Adit sedang lembur tak bisa tidur. Dan PEA tentu saja baru bangun tidur dan merasa ngelih. Sebuah dalih untuk menutupi laparnya ia membuat makanan untuk saya dan Adit.

Pisang Goreng Tanpa Kepalsuan Foto oleh @Aditia Purnomo


PEA: Ini namanya “Pisang Goreng Tanpa Kepalsuan”, digoreng tanpa tepung, susu, apalagi campur gula. Coba kalian rasakan nanti yah.

Setelah hampir setengah jam menunggu, makanan tersebut jadi juga. Saya dan Adit yang baru pertama melihatnya langsung ngakak kemekelen.

Iki pisang goreng tanpa kepalsuan, opo pisang goreng tanpa dibalik mas. Kok gosong kabeh ngene.

PEA: Dasar cah udik. Iku ancen ngono Kik, Dit. Itu bukan gosong, tapi gulanya keluar dan hampir jadi karamel. Coba rasakno disik.

Saya dan Adit melongo, manggut-manggut, ini ini beneran apa yah?

Saya ambil yang gosong satu, Adit juga ambil satu. Masih panas berkebul, saya tak sabar dan menggigitnya. Rasa isinya memang manis, namanya pisang kan manis toh. Tapi gula karamel yang gosong itu rasanya pahit, tetap pahit. Gak ada rasa gula, apalagi karamel. Saya diam saja, Aditpun demikian.

Karena masih panas, saya dan Adit butuh waktu 10 menit menghabiskan satu pisang goreng gosong tersebut.

Setelah habis, saya dan Adit mau mencoba lagi yang tidak gosong.

Bajingan! Baru sedilut kok wis entek ngene pisangnya Dit?

Piring pisang yang semula ada 8 buah, habis tak bersisa. Hanya ada remahan-remahan gosong yang tertinggal. Cen asuuuog.

Adit: Ya gak tau mas, saya makan satu yang gosong pula.

Sementara itu di sudut dekat jendela kantor, PEA menghisap rokok dalam-dalam sambil senyam-senyum sendiri.

Besok-besok saya mau kasih kepala suku: “kopi tanpa kepalsuan”. Biji kopi dikremus langsung tanpa air, gula, susu dan juga tanpa gelas. Kapan-kapan kubikinin kopi ini ya mas. Penak rasanya mas. Cobaen.

Nasi Goreng Mercon

Jalanan kota yang ramai tak menyurutkan niat saya untuk berhenti tepat di Jln.Gadjah Mada XII A Jember. Keroncongannya perut membuat saya terpaksa berhenti, tepat pada sisi jalan ini ada rombong makanan. Ada yang menarik mata dan perut saya di jalan ini. Nasi Goreng Mercon; nama makanan yang ditawarkan tepat di depan sebuah toko Jln.Gadjah Mada XII A. Nama makanan ini saja sudah membuat saya tertarik untuk mencobanya. Pada umumnya Nasi Goreng yang sering saya temui hanya ditambahi embel-embel biasa, seperti Nasi Goreng Jawa, Nasi Goreng Spesial, dll, namun disini berbeda, ada kata “mercon” yang dibumbuhi di belakang kata nasi goreng.

Continue reading

Nasi Kekel

Tepat kiri jalan disamping halte SMP 2 Negeri, pas di tikungan lampu merah jalan PB.Sudirman menuju alun-alun Jember ada sebuah gang kecil yang buntu dan juga kecil sekali namun selalu ramai disesaki orang. Kenapa tempat sekecil itu selalu ramai disesaki orang? Karena di dalam gang tersebut ada warung nasi “kekel”. Masakan yang difavoritkan orang penderita patah tulang ini menjadi incaran favorit para pengunjung. Dengan sajian yang selalu panas ditambah lagi kekelnya yang empuk menjadikan warung ini ramai dikunjungi.

Spanduk Kekel berformat tanda tambah.

Spanduk Kekel berformat tanda tambah.

Awalnya saya tak pernah tahu ada tempat makan sekecil ini di Jember, dan enak pula. Ini semua gara-gara Ayah teman saya; seorang Kondektur kereta api (bukan masinis loh yah) mengajak makan di tempat tersebut. Awal itu adalah sekitar tahun 2006-an. Pertama kalinya saya menginjakkan kaki saya di Jember. Dan dari situlah saya sering berziarah ke tempat ini. Namun sayang teman saya dan Bapaknya sudah tak lagi berkunjung ke-Jember. Alhasil hanya saya saja yang sering menziarahi tempat ini. Hitung-hitung mengenang kembali peristiwa lalu. Oh iya, saya berziarah bukan untuk menabur bunga atau malah berdoa, melainkan mengisi perut saya (baca: makan!).

Continue reading