Senam Lien Ting Kung

Ibu saya adalah salah satu penderita sakit punggung. Beliau menderita sakit ini sudah tahun ketiga sampai saat ini. Penyebab awalnya saat itu, Ibu sedang di Jakarta, naik tangga ke lantai dua menggunakan klompen alias bakiak. Entah, apa yang beliau pikir saat itu untuk memilih menggunakan bakiak, naik tangga pula. Akhirnya, jatuh terduduk, dan pinggang yang jadi persoalan. Pasca jatuh itu, pinggangnya Ibu tak pernah dipijat, takut salah dan tambah parah. Pilihan terbaik adalah berobat ke rumah sakit.

Berobat ke rumah sakit artinya tiap Minggu beliau harus datang, antri lama karena Ibu salah satu pengguna Askes. Antrian yang lama tersebut yang bikin Ibu bosan untuk berobat ke rumah sakit. Diagnosis dokternya, ada yang kecetit, alias urat salah, mlengse, yang menyebabkan Ibu susah untuk menunduk. Jika ada barang yang jatuh di lantai, butuh upaya keras Ibu untuk meraihnya. Dokter menyarankan untuk dilakukan fisioterapi rutin selama 3 kali dalam seminggu. Perlakuan yang lama untuk pemegang Askes membuat Ibu hanya melakukan terapi itu sebanyak 15 kali saja.

Sistematis berobat fisioterapi pakai Askes sangat lama. Ibu harus daftar dulu, ambil karcis menunggu selama satu jam. Masuk ke ruangan tunggu panggilan terapis antri dulu, satu jam juga. Saat dipanggil dan dilakukan terapi hanyalah 10 menit saja. Padahal alat terapi ada banyak 10 buah. Tapi waktu menunggu para pasien bisa selama itu. Kalau gak benar-benar ingin sembuh, Ibu tak akan susah payah menunggu selama itu.

Ibu saya berusia 57 tahun ini, tepat tanggal 3 Oktober lalu beliau berulang tahun. Saya merasa berdosa karena tak membawakan hadiah, hanya bisa setor muka bertemu langsung dengannya tanggal 8 pula. Terlambat lima hari. Tapi beliau tak marah, dan menuntut balas untuk kado ulang tahunnya. Cukup doa selalu diminta dipanjatkan agar selalu sehat dan banyak rejeki. Sa hampir nangis brebes mili mendengar hal itu. Sehat selalu Ibu, jangan sampai telat makan, saya belum nikah dan Ibu belum menggendong cucu. Saya berharap semoga Tuhan selalu memberikan umur panjang dan kesehatan bagi Ibu.

Kembali ke soal pinggang. Dua bulan ini, Ibu rutin melakukan perawatan dengan senam khusus, seminggu dua kali. Senam LIEN TING KUNG. Senam semacam taichi, mengatur pernafasan dan bergerak bersama yang tak terlalu berat. Ibu, diajak tetangga depan rumah persis. Senam LIEN TING KUNG, berlangsung selama satu jam. Ada gerakan jalan bebek, berdiri dengan tumit berjinjit dilakukan selama 300 kali. Gak susah sih, ujar Ibu. Tapi keringat bisa nggobyos seperti mandi sauna. Efek buat tubuh dan pinggang juga terasa signifikan. Tubuh segar, pinggang gak lagi kumat-kumatan. Jarang lagi terasa kesemutan di kaki. Tapi, yah pantangan gaya hidup sehat harus terus dilakukan. Ibu, tak boleh minum kopi, es, dan tak boleh angkat berat, naik tangga pakai bakiak dan hak tinggi. Mendengar kabar baik ini saya gembira. Ibu masih mau berkeringat untuk berolahraga. Saya tak tahu banyak soal senam LIEN TING KUNG. Tapi yang jelas, senam ini bermanfaat bagi para orang tua yang banyak mengalami permasalahan pinggang dan saraf.

Kabar baik ini akan saya bagi dan teruskan khusus ke Kepala Suku. Usianya baru menginjak 41 sih, tapi tanda-tanda penuaan mulai bermunculan padanya. Dimulai dari sakit pinggang saat sedang enak-enakan liburan bersama saya dan Nody bulan lalu. Rajin bergerak, berolahraga sehat mas, supaya gejala penuaan sedikit terhambat pertumbuhannya. Oh, iya beliau sudah rajin melakukan olahraga dengan rajin nge-gym. Tapi dasar bajingan, disuruh mengurangi berat badan supaya lebih sehat cuman dianggap sebagai salah satu saran salah. Hmmm…

Saran untuk mendapatkan banyak keringat dan berolahraga sehat juga wajib disebarkan ke Seno dan Adit Rakjat. Keduanya rentan sekali terkena penuaan dini karena jarang berolahraga dan terlalu banyak menumpuk lemak dalam perut. Yha kalau gendut berarti makmur, apalah artinya makmur jika sakit-sakitan. Hmmm…

Tahun baru sudah tiba, yuk olahraga lagi!

Advertisements

Slankers Abal-Abal

Pengalaman paling intim saya dengan SLANK adalah ketika SMA kelas 1. Sekitar tahun 2012 saya menonton SLANK di stadion Tambaksari bersama dua teman SMA. Satu adalah fans berat PADI, satu lagi SLANKERS seperti saya. Saya masih ingat betul atribut yang saya pakai. Memakai kaus SLANK warna hitam nan ketat, celana jeans panjang yang sengaja saya potong menjadi tiga per empat, pakai slayer biru, dan bersepatu pro ATT warna hitam.

Tiket kami beli dari uang saku yang seminggu sebelum konser, kami sisihkan. Ketika pintu stadion dibuka, kami mulai pelan-pelan merangsek masuk ke depan. Alhamdullilah, tiket yang kami beli ditukar dengan rokok. Kala itu SLANK masih disponsori oleh rokok. Saya lupa merk rokoknya. Sudah masuk, kami mulai mencari celah untuk menempati posisi paling dekat dengan panggung. Berdiri nan berdempetan tentu saja hal yang biasa. Nonton konser dengan duduk adalah hal tabu bagi saya di jaman dulu. Singkat cerita, sepanjang konser kami bertiga meloncat; menyanyi; bertepuk tangan; merokok sambil joget; menyalakan korek saat lagu slow dibawakan; menjalankan perintah bim-bim untuk menyanyi bersamanya; menundukkan kepala saat semprotan air disemburkan (kami yakin air yang digunakan adalah air kotor karena baunya nauzubillah busuk!); dan berteriak lagi-lagi-lagi saat SLANK berhenti bermain.

Pengalaman yang membuat saya ingin terus mengulanginya lagi dan lagi. Namun, cerita paling konyol adalah ketika konser usai. Kami bertiga bersantai di depan stadion, sembari minum es dan merokok sampai seluruh penonton bubar semua. Kemudian, kami berjalan ke arah pacarkeling, rumah teman saya yang SLANKERS. Kami melewati gang yang tepat di samping stadion Tambaksari. Eh, ada bus SLANK yang standby di sana. Dengan pintu terbuka dan lampu dalam bus menyala. Tampak seluruh personel SLANK berada di dalamnya. Ini kesempatan baik bagi kami. Tak pikir lama, kami lari dan masuk ke dalam bus. Kami harus dapat kenangan manis. Terlintas untuk minta tanda tangan pada mereka. Sial, baju kami bertiga basah, tak ada spidol yang kami bawa. HP yang kami punyai masih belum ada kameranya.

Nasib kami apes betul-betul. Hanya aktivitas salaman, rangkulan serta tos-tosan saja yang kami dapat sebagai bukti kenangan fisik bertemu dengan SLANK. Tak apalah, setidaknya itu memori terindah dan paling intim dengan SLANK. Kami bertiga pulang dengan bahagia dan merencanakan cerita untuk dibagi pada teman-teman lain di sekolah.

Tautan di bawah ini adalah salah satu cerita lain soal SLANK. Tepatnya sih soal gang Potlot, kebetulan SLANK tinggal di sana. Saya belum pernah berkunjung ke gang Potlot. Hanya mengetahui suasananya lewat YouTube, lewat lagu lawas mereka; “Kalau kau ingin jadi pacarku”. Dulu saya ingin sekali pergi ke sana. Kalau sekarang? Ya masih ingin donk. Ingin banget malah! Sumpah deh. Ada yang mau ngongkosin?

Tautannya bisa anda klik di sini: baca deh!

Nama

Saya sering diejek perkara ini. Nama panjang saya terlalu aneh bagi ‘kebanyakan’ orang. Nama lengkap saya: Rizki Akbari Savitri. Sepintas nama ini cocok untuk dipakai oleh seorang perempuan. Padahal saya laki-laki.

Awalnya saya sempat berniat mengganti nama tersebut menjadi Muhammad Rizki Saputra. Nama ini saya pilih agar tampak lebih normal dan diterima di semua lingkungan perkawanan saya. Namun hal itu urung saya lakukan. Menyandang nama Muhammad terasa begitu berat, walau tampang alim sudah terpancar jelas di wajah saya.

Wajah saya memang pantas untuk dikagumi nan dicintai yhaaa

Jalan kedua yang dulu sering saya lakukan adalah menyingkat nama tengah dan belakang menjadi Rizki AS. Ketika ditanya apa itu AS, saya biasa menjawab asal-asalan, kadang Arek Slankers, Amerika Serikat, Arek Suroboyo, sekena saya yang penting pas. Kalo masih ngeyel mencari tahu, saya selalu menjawab Akbari Slankers. Saya dulu benar-benar menyukai Slank. Trik ini tak bertahan lama. Tiap kali guru mengabsen, nama lengkap saya selalu ketahuan. Dulu di sekolah, hanya beberapa guru yang masih suka mengabsen murid dengan memanggil nama lengkapnya.

Akhirnya saya mulai melakukan hal yang biasa dilakukan banyak orang keminter, yakni memberikan arti khusus alias makna yang terkandung pada nama ini. Ilmu keminter tentu saja ilmu sok tahu, sok utak-atik awur yang saya lakukan. Rizki, saya artikan sebagai rejeki, atau berkah, atau mudahnya karunia. Sedang Akbari, saya maknai besar, dan Savitri adalah kembali ke fitrah. Saya lahir bertepatan pada momen hari raya Idul Fitri.

Utak-atik awuran keminter makna nama ini selalu saya pakai tiap kali berkenalan dengan kawan baru. Atau saat kawan lama benar-benar ingin tahu kenapa nama saya bisa seperti itu. Agar ia ngeh, bahwa nama saya tak seperti nama kebanyakan orang. Bahwa nama kadang menipu jenis kelamin. Bahwa nama adalah doa yang dipanjatkan dan ditularkan agar benar-benar terwujud nantinya.

Akan tetapi itu semua usang ketika saya diberitahu arti sebenarnya dari nama yang melekat sedari lahir ini. Rizki ternyata benar berarti rejeki, berkah atau karunia. Savitri juga benar, artinya kembali ke fitrah merujuk ke hari kelahiran saya saat Idul Fitri. Sedangkan Akbari bukan berarti besar melainkan akronim dari Abdul Karim dan Rivai. Nama Bapak dari kedua orang tua saya.

Bapak dan Ibu saya sengaja menamai Akbari sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada Bapak mereka. Saya lahir dan dibesarkan di Surabaya, sedang Bapak dan Ibu saya asli dari Palembang, dan pergi merantau setelah resmi menikah pada tahun 1984. Saya tak pernah tahu bagaimana rupa kakek-kakek saya tersebut. Padahal nama yang saya bawa adalah nama mereka. Saya merasa berdosa dan menyesal baru mengetahui kenyataan ini. Hal yang bisa saya lakukan saat ini adalah terus mendoakan kedua Kakek saya tersebut dan mencari tahu sedikit demi sedikit kisah hidup mereka. Kisah hidup kakek sangatlah penting untuk saya ketahui, untuk bisa saya jadikan teladan agar saya tak tersesat nanti ke depannya. Tentu juga, agar saya tak melakukan hal-hal yang bisa merusak nama baik keluarga. Saya harus benar-benar banyak belajar lagi soal asal-usul keluarga, soal tanah kelahiran orang tua, tradisi dan banyak hal lainnya. Mempelajari hal ini sudah sepatutnya dilakukan dan dilaksanakan oleh anak sulung seperti saya. Menjadi anak sulung ternyata membuat hidup saya tak bisa sembarangan dan semena-mena. Oh, beratnya hidup ini Tuhan YME.

Dari hal-hal di atas ini saya sekarang kebingungan memikirkan soal bagaimana nantinya menamai anak saya kelak.

Nikah saja belum, sudah bingung mencari nama anak. Howalah, Kik…Kik…