Sega Sambel

Makanan ini harus Anda nikmati ketika sedang berkunjung ke Surabaya. Ada banyak pilihan tempat yang bisa Anda singgahi untuk mencicipi Sega Sambal. Rekomendasi saya adalah lapak Sega Sambel Ho-Ha dan Mak Yeye. Khusus untuk Sega Sambel Mak Yeye, ia baru buka di atas jam 9 malam.

Saya berkesempatan menikmati Sega Sambel Ho-Ha. Letaknya di Dharmawangsa Surabaya, dekat kampus 3 Unair. Dulu, lapak Sega ini berada tepat di trotoar jalan. Seiring perkembangannya, trotoar yang seharusnya untuk pejalan kaki, kembali difungsikan semestinya. Lapak Sega Sambel Ho-Ha kemudian menggunakan salah satu rumah masih di area jalan Dharmawangsa Surabaya.

Sega Sambel memiliki banyak pilihan lauk. Ada telur, ayam, ikan gurame, ikan peh hingga kadang juga ada bebek. Jika anda sedang melakukan puasa lauk, anda bisa memesan Sega Sambel dengan tempe dan terong. Paket makanan tanpa lauk. Khusus untuk sajian spesial Sega Sambel adalah ikan peh. Biasanya disajikan dengan terlebih dahulu diasapkan. Sajian ini kemudian diberikan dengan sunduk berupa tusuk sate. Sedang pilihan lauk ayam, telur, dan ikan gurame biasanya hanya digoreng tanpa diasapkan.

Sega Sambel HO-HA lengkap ditambah lauk Ikan Peh yang diasapkan

Lauk yang sederhana tersebut tak terasa mantap apabila tidak dibarengi dengan rasa Sambel yang kuat. Di sini kemudian lapak Sego Sambel di Surabaya berlomba-lomba menyajikan sambel spesial. Terasi, tomat serta cabai adalah bagian yang harus ada di racikan sambel tiap lapak. Jika anda penyuka pedas saya sarankan untuk pesan sambel original. Untuk yang tak penyuka pedas nian, anda bisa meminta racikan khusus. Biasanya sambal tersebut nantinya akan ditambahkan gula oleh si empunya Sega Sambel.

Menikmati sajian Sego Sambel di Surabaya paling enak adalah malam hari. Saat suasana, dan cuaca tak terlalu panas. Jika anda penyuka pedas, pilihan lapak Sego Sambel Mak Yeye bisa anda pilih. Lapak Mak Yeye ada di daerah Jagir Wonokromo.

Sega Sambel HO-HA lauk Ikan (saya lupa namanya) digoreng sampai garing

Tiga hari lalu saya kebagian menikmati sajian Sego Sambel Ho-Ha di Dharmawangsa Surabaya. Saya memesan ikan asap dengan telur, sedang partner saya memesan ikan gurame. Sambelnya tak terlalu pedas di lapak ini. Pelanggan yang datang juga tak sebanyak dahulu, ketika masih berjualan di pinggir trotoar. Namun, sambel yang tak terlalu pedas bagi saya ini cukup untuk membuat tubuh saya berkeringat dan menghabiskan dua gelas es teh. Harga yang harus saya ganti masih terhitung murah. Lima puluh ribu masih susuk banyak.

Rasa kangen saya akan Sega Sambel tersebut kini bisa saya lampiaskan di Jogja. Tak perlu jauh-jauh pergi ke Surabaya. Di Angkringan Mojok, kini juga ada sajian Sega Sambel. Harganya cukup murah, dan pilihan lauknya juga bervariasi. Ditambah lagi, Angkringan Mojok juga buka mulai sore hari hingga dini hari. Waktu yang hampir-hampir sama dengan lapak Sego Sambel di Surabaya.

Bagi kamu yang belum tahu, Angkringan Mojok ada di Jalan Damai no 168 A, Jogja. Letaknya berdekatan dengan Kedai (Miko) Minum Kopi. Jam buka mulai pukul 17.00 hingga pukul 01.00 WIB. Buka tiap hari, gak ada libur.

Gak percaya? Kesini aja!

Advertisements

Perkara Dua Ribu

Namanya M. Qomarudin, biasa dipanggil Qomar. Sialnya dia tak mau dipanggil nama tersebut. Ia memilih nama panggilan lain, jadinya adalah Como Bacomboy, Como! Bukan layaknya tokoh yang selalu diceritakan Kak Seto, si komo. Delapan tahun lebih kuliah pertanian ia selesaikan di Jember. Bukan karena malas, namun aktivitasnya menyaratkan dia kudu bepergian jauh ke beberapa daerah di Indonesia. Skripsinya tiga kali ganti judul, tentu saja jika dihitung waktunya, itu sama dengan 3 tahun.

Sebagai sarjana pertanian, Como sangat pintar dalam hitung-menghitung. Berbekal kemampuan tersebut, Angkringan Mojok merekrutnya sebagai kasir.

Como Bacomboy, nama baptis dari Muhammad Qomarudin

Di suatu malam minggu yang ramai, terjadi sedikit keributan transaksi di meja kasir AngMo. Saya sempat menguping kejadian itu.

Pelanggan: Sudah mas, berapa total semua?
Como: Iya mbak, tadi habis makan satu nasi sambel, es jeruk dua yah?

Pelanggan: Iya mas, berapa jadinya?
Como: Delapan belas ribu rupiah, mbak.

Pelanggan, mengeluarkan selembar lima puluhan.
Como menerima uang tersebut dan siap menjujuli. Tapi, tiba-tiba Como meminta pelanggan mengeluarkan lagi uang Rp2.000

Pelanggan sedikit kebingungan, dan menyerahkan uang dua ribu rupiah.
Como menyerahkan uang kembalian Rp32.000

Pelanggan makin bingung, mas Kasir harusnya kembalian saya jadi Rp34.000 karena tadi dua ribu saya kasih ke mas.
Como: Panggil saya Como saja, jangan mas, atau mas kasir, biar lebih akrab gitu mbak. Hehe

Pelanggan: (makin kesal) loh mas, saya gak nanya nama dan gak mau tahu situ siapa.
Como: Ya, barangkali mbaknya mau mengenal saya lebih jauh lagi. Kembaliannya memang Rp32.000. Dua ribu tadi saya pinjam dan simpan, biar besok mbaknya ke sini lagi dan bertemu saya.

Pelanggan tiba-tiba mengambil nafas panjang dan dihembuskan pelan-pelan ke muka si kasir dan berkata: Oh, gitu ya mas, ya udah deh, besok saya ke sini lagi sambil bawa tunangan saya. Makasih mas Como kasir.

Como langsung menundukkan kepalanya, hanya diam saja, dan pelan-pelan melirik mbak pelanggan yang pergi meninggalkan AngMo.

Mencicipi Kopi Wonosobo (Part 2)

Kiriman kedua kopi rahasia saya coba kemarin. Rasanya tak terlalu kuat seperti kopi pertama yang saya coba. Kopi kedua ini bijinya agak lonjong dan sedikit besar. Saya tebak ini pasti Arabika. Oh, iya si pengirim kopi rahasia ini akhirnya membalas japrian saya.

Namanya mas Akhmad Zaen. Masih muda dan berkuliah. Zaen ini baru pertama mencoba memproduksi kopi asal daerahnya. Minumkopi berkesempatan mencicipi produksi pertamanya. Kedua kopi yang ia kirim berasal dari Desa Slukatan, Mojotengah, Wonosobo.

Kopi pertama yang saya cicipi sesuai status di bawah ini adalah kopi Lanang. Sedang kopi keduanya yang saya cicipi kemarin adalah kopi Arabika. Tipikal rasa keduanya hampir mirip. Cuman rasa kopi Lanang sedikit nendang di lidah saya. Ketika saya tanyai lebih lanjut kepada Zaen, kopi produksi pertamanya ini masih perlu diperbaiki.

Proses pasca panen kopi kirimannya adalah metode fullwash, di roasting medium di tempat temannya, dengan mesin roasting kapasitas kecil, hanya satu kilogram. Roasting yang sudah cukup bagus, karena keseragaman warna kopi yang dihasilkan. Dapat anda lihat di bawah ini.

Secara rasa, kopi Arabika dari Desa Slukatan Mojotengah Wonosobo ini punya potensi cita rasa yang khas. Aromanya wangi, dan rasa yang yang keluar ada manis, asam dan pahit. Tinggal bagaimana proses pengolahan kopi yang akan dipilih. Saya kira metode ini bisa diutak-atik oleh Zaen. Begitupun dengan profil roasting, Zaen masih kurang nyaman dengan hasil roasting manualnya. Rasa kopinya masih kurang nendang apabila memakai rasio penyeduhan 1: 15, perlu lebih banyak memakai kopi, dengan rasio sekitar 1:10. Tentu anda bisa mencobanya sendiri, karena rasa kopi yang dihasilkan tiap-tiap orang tentu berbeda. Soal rasio kopi ini tiap orang bisa berbeda-beda loh. Tak bisa dijadikan patokan standar. Mengapa? Yah karena faktor air yang digunakan, suhu air, gilingan kopi, serta metode seduh. Percayalah, menyeduh kopi masa kini sudah terlalu banyak cara, tinggal anda sreg, dan banyak bereksperimen. Bahkan cara menyeduh kopi tubruk pun ada banyak pilihannya. Gak percaya nih. Yawdh c gpp.

Bagi yang ingin menikmati rasa dan memesan kopi produk dari Desa Slukatan Mojotengah Wonosobo bisa menghubungi akun Twitter Akhmad Zaen di @xsuren

Bagi Anda yang punya produk kopi dan ingin memperkenalkan pada publik, bisa menghubungi minumkopi.com jangan sungkan, dan tak dipungut biaya.