Hutan untuk Rakyat: Jejak Gus Dur di Lereng Pegunungan Argopuro

Ekspedisi Kopi Miko berangkat ke bagian selatan lereng Argopuro, pada Sabtu 13 Agustus 2016. Tepatnya di Dusun Sumber Candik, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember. Daerah dengan ketinggian 700 – 900 mdpl. Kami berangkat selepas zuhur, ditemani dua orang relawan Sokola Kaki Gunung, Rotan dan Tutik. Dan satu lagi, Mas Bebe, dia adalah pengelola kedai kopi yang termasyur di daerah Jember. Nama kedainya kopinya WTC, singkatan dari ‘Warung atau Cafe’.

Jalur ekspedisi yang kami tempuh cukup sulit. Melewati jalan yang menanjak, berbatu, dan licin karena malam kemarin Jember diguyur hujan. Separo perjalanan, ekspedisi kami sempat terganggu. Salah satu motor yang kami pakai sempat tergelincir dan mogok. Bukan salah jalannya, tetapi salah Honda Win milik Mas Bebe yang sedang nakal meskipun baru keluar dari bengkel. “NOS-e iki gak bisa nyala, rek,” kata Mas Bebe.

Oke, stop! Informasi lebih lanjut tentang sosok misterius ini dan kedai kopi dengan nama yang aneh sebaiknya ditunda dulu, sebab harus ada tulisan khusus tentang Mas Bebe dan kedai kopinya. Mari kita kembali ke jalan yang benar.

Pukul tiga sore kami sampai di Padepokan Gus Farid Sumber Candik. Kami beristirahat sejenak sambil menikmati sajian air sereh buatan Rotan. Tempat menginap Tim Ekspedisi Kopi Miko kali ini adalah tempat relawan Sokola Kaki Gunung tinggal selama kegiatan belajar dilangsungkan. Pukul empat sore kami memulai perjalanan menyusuri kebun-kebun kopi.

Kebun-kebun kopi di sini sebagian besar ditanam di lahan milik Perhutani. Hanya sebagian kecil saja yang berkebun di lahan sendiri. Kopi-kopi yang ditanam adalah jenis robusta. Beberapa kebun kopi masyarakat yang berada di ketinggian di atas 800 mdpl ditanami ‘kopi Thailand’. Masyarakat di lereng selatan Pegunungan Argopuro menyebut jenis kopi arabika sebagai kopi thailand.

Sebelum mengenal tanaman kopi, warga di Sumber Candik dulunya bertani cabai, pisang, dan durian di tanah yang terlalu luas milik warga. Namun masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengubah jalan hidup masyarakat di dusun ini. Sebab, ketika itu ada pernyataan Gus Dur yang mengatakan bahwa ‘hutan untuk rakyat’. Pernyataan presiden itu menjadi alasan bagi masyarakat untuk mengambil hasil hutan secara manasuka. Termasuk membalak kayu hutan dan menjarah kopi yang ditanam PTPN. Kejadian ini tidak hanya di Sumber Candik, tetapi merata dari Pacitan hingga Banyuwangi.

Tetapi, peristiwa itu membuka ruang bagi masyarakat untuk dilibatkan mengelola hutan dengan sistem Pengelolaan Sumber Daya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) yang dijalankan sejak 2001. Agar sistem itu bisa berjalan secara partisipatif, maka dibentuk lembaga yang disebut Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Setelah mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi mengelola hutan, utamanya bertani di lahan Perhutani. Masyarakat di Sumber Candik mulai menanam kopi. Gelombang pertama yang memanfaatkan kesempatan ini terjadi pada 2003. Bibit kopi didatangkan dari Perkebunan Durjo, Sukorambi, Jember.

Pukul lima sore, kami kembali ke tempat menginap. Beberapa kawan membasuh diri dan bersiap melakukan salat magrib. Tak lama setelahnya, kami makan malam. Tahu goreng, mie instan, serta peyek teri menjadi santapan malam. Juga sajian tanaman bayam hutan yang diolah menjadi lalapan. Semua lauk-pauk tersebut diolah oleh Rotan dan Tutik. Oh, jangan lupakan sambal hijau buatan Pak In, salah satu warga Sumber Candik yang menemani teman-teman pengajar Sokola Kaki Gunung. Sambal yang sangat pedas nan asin penambah selera makan kami.

Usai makan dan menghabiskan sebatang kretek, kami turun untuk bertemu dengan beberapa petani kopi di tanean lanjeng. Istilah dalam bahasa Madura yang merujuk konsep permukiman orang Madura. Di tengah-tengah permukiman terdapat halaman yang memanjang, dan di sisinya terdapat rumah-rumah yang berjajar menghadap ke halaman luas tadi.

Kami bertamu di rumah Pak Sisca (nama daging, artinya bapak dari Sisca). Ia memulai menanam kopi sejak 2013. Dulunya ia adalah petani cabai, pisang, dan durian. Namun, setelah melihat banyak tetangga yang memperoleh hasil bagus dari kopi, ia pun ikut menanam kopi. Mulanya ia menanam 2.000 pohon kopi robusta. Ia baru saja memanen 6 kwintal kopi gelondong. Tetapi, merasakan hasil bagus dari panen kopi, ia akhirnya menanam lagi 8.000 pohon kopi thailand (kopi arabika) tahun ini. Alasannya menanam kopi thailand lantaran mendapatkan informasi, harga kopi thailand lebih mahal dari kopi robusta.

Pak Sisca tak pernah ambil pusing soal cara panen kopi. Harga kopi petik merah selisihnya tak terlampau jauh dengan petik sembarang yang dipraktekannya. Sebagian besar petani di sini menjual kopi gelondong asalan.

Pendapatan panen kopi digunakan oleh masyarakat untuk diputar kembali. Bisa dengan menjadi pengijon, sebagian lagi digunakan untuk modal bertani kopi tahun depan. Sisanya ditabung demi naik haji. Beberapa petani kopi sudah pergi haji hasil dari bertani kopi. Ada pula yang, dari hasil petik pertama kopi di tahun ini, langsung dibelikan motor. Moda transportasi yang digunakan untuk mengangkut hasil panen kopi dari kebun ke rumah.

Waktu sudah mendekati pukul sembilan malam. Obrolan harus kami hentikan. Penganan dan kopi buatan istri Pak Sisca pun telah tandas. Kami pamit untuk kembali ke penginapan.

banner-ekspedisi-kopi

Ekspedisi Kopi Miko 2016

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di sini.

Advertisements