Berlibur singkat

Dua hari lalu (18 Desember 2017) saya memutuskan menghentikan segala rutinitas harian saya untuk berkontemplasi sejenak dengan jalan-jalan santai. Eh, gak jalan juga sih, naik motor lebih baiknya. Baik karena tak melelahkan, tinggal gas, cusss.

Sialnya, saya kok ya berlibur tak jauh-jauh dari kedai-kedai kopi. Tanpa rencana, alias list tempat-tempat ngopi saya, saat masih berkutat dengan aktivitas perkuliahan. Tempat-tempat ngopi mulai dari yang harganya 5 rebuan hingga 30 rebuan. Khusus yang terakhir ini tergolong tempat baru sih.

Sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa apa yang saya alami selama dua hari ini murni dari pengamatan dan pengalaman singkat berada di sana. Menggabungkan juga dengan memori alias kenangan akan tempat-tempat tersebut. Apa lagi saya bukan seseorang yang patut dijadikan patokan soal rasa, tempat, suasana, -singkat cerita ini hanya soal berbagi. Curhat cuk, curhat.

Tempat pertama adalah kedai kopi Blandongan. Saya menghabiskan masa ngopi di sini selama hampir 2 tahunan. Awal mula saya memutuskan untuk tinggal lebih lama di Jogja sekitar pertengahan tahun 2012. Kontrakan menumpang di daerah gowok. Otomatis kedai-kedai kopi yang saya tongkrongi adalah daerah bernama kebun laras, dan Blandongan. Ada 4 kedai kopi dulunya di sana.

Dulunya, Blandongan jadi tempat spesial, karena kopinya kereng, area ngopinya besar, banyak colokan, dan tentu saja ada banyak kawan juga di sana. Jadi, soal kehabisan rokok dan uang, tak pernah jadi permasalahan. Kik, kun iku masalah tok ae yang diomongkan, huh.

Eh, ketika kemarin kesana, situasinya berubah total. Blandongan tak lagi terlalu ramai, suasana tempatnya juga bertambah muram. Kotor, meja, kursi dan lantai banyak debu, berserakan kotoran, piring-piring makanan yang tak diangkat, gelas-gelas kopi yang sudah habis isinya, puntung rokok berserakan, dan juga suasananya lebih muram. Pekerjanya juga berganti, tak sebanyak dan seramah dulu. Pesanan masih sama, pengopi memesan dan mengambil beberapa snack, air mineral dan ragam jajanan yang tersedia di bar dalam Blandongan. Lalu kasir mencatat masih sama menggunakan nota, dan pesanan akan diantarkan langsung ke meja. Dulu, server masih mengantarkan pesanan dengan baki, eh sekarang uda gak lagi, pesanan dikirim pakai tangan langsung, gelasnya bekas dicuci, gak bersih, gak dilap pula, yawlaaaa sedih saya. Untungnya saya masih bisa bersabar, karena bagaimanapun juga tempat ini yang membantu saya menghabiskan waktu untuk mengerjakan project-project demi menghidupi kebutuhan akan makan selama di Jogja.

Soal rasa? Jauh! Berubah, kopinya tak sekereng dulu, walau tipikal sajian kopi yang luber hingga ke lepeknya masih tetap khas dipertahankan. Bagi yang belum tahu filosofi kenapa kopi dalam cangkir harus luber, karena pembuatnya berharap kopi luber ini akan membuat peminumnya banyak rejeki, dan pembuatnya juga sama, ketiban rejeki berlebih. Terserah kalau kamu gak percaya mitos ini. Kopi bubuk siap seduh untuk dibawa pulang masih tersedia juga di sini. Saya awalanya niat beli, urung melakukannya, yha gegara soal di atas ntuh.

Soal kedai-kedai kopi sederhana di area dekat Blandongan, masih tetap ada, hanya berganti nama saja. Soal rasa, saya urung mencicipinya, karena sudah kadung agak sakit hati. Anehnya, daerah kedai-kedai kopi di sana, masih tetap ramai dikunjungi. Saya benar-benar tak habis pikir, kok bisa yha. Mungkin kamu tak tahu, area kopi yangs aya ceritakan ini berada persis dekat dengan lokasi UIN Suka Jogja. Yha kira-kira setendangan ketek penjaga gawang. Lokasi yang juga dekat dengan kos-kosan mahasiswa, lokasi yang relatif murah dibandingkan dengan daerah lain di Jogja.

Tempat kedua yang saya singgahi adalah Filkop Jogja. Lumayan jauh, berangkat dari daerah tengah kota ke daerah ujung kota. Ujung utara. Masuk-masuk ke area pemukiman dan sawah-sawah hijau. Yakelah, sawah emang ada yang gak hijau? Ya ada lah cuk, sawah menguning, itu!

Datang ke sana, cukup asri dan nyaman, ya karena masih banyak sawah kali yah. Hawanya gak terlalu panas, otomatis juga gak terlampau dingin. Sedang. Parkirnya luas, memanfaatkan beberapa lahan kosong, dan rumah-rumah warga. Harpa dicatat, konsep kedai Filkop Jogja ini bukanlah satu-satunya yang pernah dibuat di Jogja. Banyak yang sudah duluan memulainya. Beruntungnya, brand Filkop sudah sangat terkenal, jadi, tempat parkir menjadi salah satu kunci demi mendapatkan kenyamanan pelanggan untuk datang sebanyak-banyaknya.

Masuk kedalam, ada lima sampai tujuh ruangan besar yang dibuat dengan konsep joglo lawas (kalau saya tidak salah hitung loh yah, maaf memori saya buruk), perabotannya juga oldskull. Lawasan lah pokmen, kursi, meja dibuat berwarna-warni tak seragam. Beberapa menggunakan ornamen plastik, karet, besi dan yang musti ada di kedai kopi adalah ornamen dari kayu. Bar utama ada di tengah-tengah sebelah kanan dari jalan masuk menuju Filkop Jogja. Bangunan ngopi lain berhadapan dan bersebelahan dengan bar. Saya tak suka foto, jadi kalian musti kesana langsung untuk melihatnya. Bagi yang malas, cukuplah buka google earth, dan zoom sedekat mungkin.

Nama brand kedai yang cukup seterkenal itu, ternyata metode pemesanan untuk pelanggan masih manual. Anda diwajibkan berkunjung alias hadir di depan bar, berinteraksi dengan kasir dan barista langsung. Anda memesan, dan bisa langsung memilih tempat nongkrong. Tapi anda tak boleh pergi terlalu jauh, karena pesanan anda harus diambil sendiri ke meja bar. Itu pun disediakan lengkap, gula, es, air putih, silahkan anda ambil langsung di bar. Bagi yang sudah kadung nongkrong di tempat pilihannya, akan dipanggil dengan pengeras suara. Dipanggil untuk anda mengambilnya sendiri di meja bar. Untuk anda yang memesan menu kudapan dan makanan berat harap bersabar, pembuatannya cukup lama. Saking lamanya, pesanan partner saya; coklat panas dengan hiasan bunga foam susu diatasnya sampai menggelembung di pinggir-pinggir gelas. Coklatnya bahkan sudah turun separuh gelas berukuran 180 ml. Soal rasa? Anda bisa coba sendiri atau tebak sendiri lah dari apa yang saya tulis barusan. Saya memesan tiwus V60, rasanya cukuplah. Gak terlalu spesial ketika saya membaca buku dan menonton filmnya yang edisi 1 (Edisi ke-2 belum saya tonton).

Kalau dari amatan singkat dengan luasan ruang nongkrong dan banyaknya pegawai di sana, harusnya sistem pemesanan untuk pelanggan yang datang bisa sedikit dimodifikasi demi memuliakan dan tentu saja untuk kenyamanan para pelanggan. Ingat pelanggan adalah raja. Jarak tempuh yang cukup jauh dari pusat kota, dengan tipe-tipe pelanggan yang tak semuanya punya mobil, punya tingkat kecapekan dan setress yang berbeda-beda. Udah jauh-jauh datang, mesennya manual, dan membayar lunas di awal, menunggu dipanggil dan menunggu makanan datang yang cukup lama, bisa menguras emosi loh. Dikenakan pajak pula, huh. Saran aja, nih ya. Segitu banyak pegawai harusnya bisa lebih maksimal lagi. Saya jadi berpikir ulang ketika diajak berkunjung dan nongkrong di sana lagi. Yha, walau spot foto, tempat menikmati udara dan view yang dijual di sana cukup nyaman dan menyenangkan, tapi yah tiap orang kan punya penilaian soal rasa kenyamanan toh.

Tempat ketiga yang saya singgahi, gak berhubungan dengan kopi sih, tapi ada sajian kopi yang banyak dan cukup modern. Yakni, Parsley Bakery dan Resto. Sajian roti yang banyak ragamnya, menu makanan mulai dari pembuka, inti hingga maem penutup ada disana. BIr, coktail dan wine gak saya temukan, atau saya yang kurang sensitif membacanya, maaf yah gaes. Saya memesan americano, minuman sehat; buah leci dicampur dengan peach, disiram dengan es serut dan campuran air jus keduanya. Segar. Tanpa soda, alami. Makanan yang saya pesan adalah sop buntut sapi yag direbus, tidak dibakar dan digoreng. Rasanya cukup nikmat, menyeruput kuah sop dan mecuil empuknya daging mengingatkan akan masakan Ibu saya di rumah. Yawlaaa, sungguh saya ingin mencobanya tiga piring lagi, namun apa daya, satu saja cukup mengenyangkan. Rasa americano cukuplah, disediakan bermacam gula sachet terpisah, mulai dari gula pasir, gula merah, dan gula rendah tapi manis. Suasana ruangan yang cukup premium, ada bangu yang dibuat menyerupai ayunan, rerata berbahan kayu. Tempat untuk smoking, pun ada dipisah, demi kenyamanan seluruh pelanggan yang datang. Saya berdiam diri di sana hampir 3 jam lamanya saking nyaman. Kalau ada kasur atau bantal lah minimal, saya bisa langsung tidur-tidur ganteng nan ngorok. Soal harga tentu saja kalian pasti bisa menebaknya. Cukuplah untuk kalangan yang rajin mengutang seperti saya ini untuk membayarnya tiga sampai empat kali lebih banyak dari harga awal pesanan. Namun urung saya lakukan memberi uang 4 kali lebih banyak dari nota, karena ntar saya dikira sombong. Padahal miskin aja belum.

Soal pelayanannya, cukup cepat dan ramah. Saya tak perlu datang ke bar, cukup pelayan datang menghampiri, mencatat pesanan dan tak sampai setengah jam, seluruh pesanan saya sudah datang, lengkap dengan sendok garpu, dan tissue. Oh, iya di tiap meja pelanggan sudah disiapkan merica, garam, saus dan sambal botol. Cukuplah. Saya juga sudah tak perlu meminta asbak, karena sudah tersedia di atas meja. Pelayannya ramah, saya sempat tak sengaja memecahkan asbak, eh langsung tanggap mereka membersihkannya, dan saya tak dicash biaya ganti rugi akibat asbak itu. Piring makanan pesanan saya yang sudah tandas tak sampai 10 menit, sudah langsung otomatis dibersihkan oleh pelayannya. Sungguh servis yang memuaskan. Saya mau diajak ke sana lagi oleh Anda. Hayo, siapakah Anda yang mau mengajak saya ke sana lagi, bolehlah.

Ada tempat lain yang saya kunjungi, tapi saya urung ceritakan di sini. Tempatnya remang-remang, enak buat melepas lelah sambil dihibur dengan live musik ditemani sajian yang membuat Anda yang punya sakit kembung bisa langsung sembuh. Hehe…

Saya ingin berlibur lagi dengan durasi yang lebih lama. Menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama Anda, membaca buku, menikmati santapan senikmat-nikmatnya, sepelan mungkin, sampai saya merasakan kunyahan di dalam mulut berbunyi menyenangkan. Menyeruput minuman hingga sedikit menetes di sela-sela bibir. Meminum dengan berlebihan sampai bekas minuman menempel di kumis dan hidung, dan sambil berharap Anda akan mengelapnya dengan sukarela dan mengulanginya berkali-kali. Liburan singkat tak melulu ke tempat rekreasi, makan dan minum saja sudah cukup menyenangkan.

Advertisements

Kopi Lanang Arabika Blue Tamblingan

Hari kedua di Pojok Don Biyu. (14 September 2017)

Hari ini saya habis dua piring bubur tepeng. Pertama, bubur tepeng khas pasar dekat penginapan yang saya tinggali sementara ini. Pagi betul, saya dan Nody menghabiskannya. Agak siang dikit, ada penjual bubur datang ke tempat kami, menawarkan bubur tepeng lagi. Penjual bubur keliling ini, termasuk jarang sekali datang dan menjajakan dagangannya ke tiap rumah yang ada di daerah Munduk, Bali. Durasi dan tindakan menjual yang kadang tak bisa ditebak itulah yang membuatnya sedikit spesial. Bagaimana dengan rasa sajiannya?

Baeklah…
Saya minta maaf tak sempat memfotonya, pertama disajikan di atas meja, nafsu makan saya tiba-tiba naik dua kali lipat dari biasanya. Sendok garpu saya asah dulu, demi kenyamanan saat memakannya. Bubur sengaja tak saya aduk rata, apalagi menambahkan kecap asin, sambal dan juga kuah tambahan. Perlakuan ini khusus saya lakukan hanya saat menyantap bubur tepeng. Kenapa? Ya, pelengkap yang saya sebut itu hanya ada di bubur ayam pinggir jalan atau depan RS biasa untuk mengisi perut saat pagi menunggu warung-warung makan buka. Sementara, sajian bubur tepeng, sudah tak perlu lagi ditambah pelengkap cita rasa apapun. Dia sudah cukup lezat tak perlu ditambah dengan kepalsuan lainnya. Aih, Taek, Kik!

Sendok makan pertama saat tiba di mulut, saya memejamkan mata. Sendok kedua, saya tetap merem. Sendok ketiga, saya tahan sejenak dan menatap sajian bubur di hadapan saya. Ini bubur apa sih. Rasanya membuat saya ingin menikmati bubur pelan-pelan saja, sambil membayangkan rasa bubur terenak terakhir yang pernah saya makan. Saya coba ingat-ingat suasananya, apakah sama dengan suasana makan saya siang ini. Bubur terakhir terenak saya makan saat berada di Bandung, di depan pintu gerbang Kampus ITB. Pagi betul saya nikmati, selepas ibadah salat Subuh dan aktivitas run-run cilik di depan ITB. Saat kalori dibakar dan keringat keluar secara alamiah, perut saya tiba-tiba menemukan warung bubur. Insting kadang bisa dipercaya, warung bubur tak sengaja itulah, yang ternyata membuat saya merasakan sensasi rasa bubur ayam kampus terenak. Lanjut ke bubur tepeng.

Isi bubur tepeng ini sangat variatif. Ada kacang, kedelai, sayur, singkong, kuah kaldu yang bening dan bubur tentu saja. Kuahnya bening, tapi ketika diseruput rasanya meledak di lidah. Ada bermacam jenis rempah yang luber di mulut. Kental, tebal nan pedas tapi tak menggigit. Juga ada sedikit asin menyegarkan. Ketika mencicipi bubur dengan kuah nan lengkap beserta sayur kacang dan sambal yang sudah ditaburkan di atasnya tiba-tiba mata refleks memejam dan muncul sosok Pevita Pearce yang mengucap: Sayang, kamu mau dibikinin sarapan apa pagi ini. Sana mandi dulu, baju sudah kusiapkan di atas meja. Sensasi nyata seperti itu yang saya dapatkan saat mencicipi bubur tepeng. Perlu waktu sekitar 15menit bagi saya untuk menghabiskan satu porsi bubur. Sementara mas PEA dan Nody sudah leyeh-leyeh sambil mengkretek.

Mas PEA hanya tersenyum melihat tingkah laku makan saya sambil berujar: Ini bubur tepeng terenak se-Munduk! Sementara Nody hanya ngowoh dan membiarkan sisa bubur dan kuah menempel di seluruh bibir dan mulutnya. Makanan enak susah untuk dijelaskan rigid soal detail rasanya. Hanya tingkah laku dan sikap pemakannya. Saya ketagihan. Besok saya pasti mencobanya lagi, dan penasaran sensasi apa yang akan terjadi besok. Semoga Ibu itu datang lagi.

Peaberry Kopi Blue Tamblingan cocok diminum sehabis menyantap Bubur Tepeng

Sensasi hari ini bertambah kala saya menyeruput kopi peaberry Arabika Blue Tamblingan. Yawlaaaa, terimakasih atas nikmat hidup yang kau berikan padaku. Peaberry Arabika Blue Tamblingan ini tersedia hanya di Pojok Don Biyu, Bali.

Memangkas Jalur Distribusi Kopi

Secara teori, semakin ke hilir memasarkan komoditas pertanian maka semakin banyak nilai tambah yang diperoleh petani. Namun, tidak mudah mewujudkan praktek perdagangan yang demikian. Kebanyakan petani terkendala dengan kurangnya informasi tentang pasar, pengolahan hasil panen yang sederhana, serta kuantitas produksi yang sedikit, sehingga mereka memilih memasrahkan hasil produksinya kepada tengkulak.

Tetapi sekarang, dengan berkembangnya teknologi informasi melalui internet, membuat kesempatan untuk menjangkau konsumen menjadi lebih mungkin dilakukan oleh petani.

Keluarga Surata, petani kopi di Bondowoso, bisa menjadi salah satu contohnya. Produksi kopi arabika Ijen-Raung miliknya tidak hanya dipasrahkan kepada distributor yang datang ke daerahnya. Tetapi, ia juga memasarkan produk kopinya, yang bermerek Nurtanio Coffee, langsung kepada konsumen di luar daerah.

Jika biasanya distributor mengambil biji kopi basah, kini ia bisa memasarkan dalam bentuk bubuk kopi yang siap diseduh oleh konsumen di hilir. Untuk melakukan penjualan ini, Surata dibantu oleh anaknya yang lulusan STIKOM Surabaya, Haris Nurtanio (24 tahun), dalam memasarkan produk Nurtanio Coffee.

Haris mulanya menjual kopi dari pintu ke pintu, ke instansi-instansi lokal di daerah Bondowoso dan sekitarnya. Namun karena saingan dalam pemasaran ini terlalu banyak, dan tingkat keterjualan produknya relatif sedikit, Haris kemudian mencoba memasarkannya via internet.

Haris memasarkan Nurtanio Coffee dengan menggunakan marketplace online, Bukalapak dan Tokopedia.

Tim-Ekspedisi-Kopi-Miko-bersama-Haris-Nurtanio

Tim Ekspedisi Kopi Miko bersama Haris Nurtanio

Menjual kopi lewat online. Hanya sedikit petani yang sanggup dan berani melakukannya. Berbekal ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah, Haris memanfaatkan jalur ini. Ia paham jangkuan pemasaran ini justru lebih luas. Serta ia tidak harus berkeliling untuk memasarkan produk kopinya.

“Pesanan datang sendiri. Tidak rumit pula karena ongkos kirim pun sudah dihitungkan,” terangnya.

Seiring dengan waktu Kopi Nurtanio mulai mendapatkan pasarnya. Beberapa kedai kopi dan konsumen penikmat kopi mulai teratur memesan Nurtanio Coffee.

Seperti tanaman, pohon yang dirawat akan tumbuh dengan lebih baik. Demikian pula Haris mencoba memperlakukan pelanggannya. “Kualitas kopi harus terjaga. Juga stok harus tersedia sepanjang tahun,” katanya.

Dalam seminggu, Nurtanio Coffee terutama jenis Blue Mountain mampu terjual 50 bungkus dalam kemasan 175 gram. Perlahan tapi pasti, penjualan Nurtanio Coffee terus meningkat. Dalam sebulan, Haris kadang mampu menjual produk kopinya sebanyak 300 bungkus kopi.

Sembari menunggu pesanan kopi datang di lapak onlinenya, Haris masih bisa mengajar kelas multimedia dan menjalankan Nurtanio Music Studio and Coffee House yang baru dibukanya akhir Juli lalu di Jalan Kolonel Sugiono No 33, Bondowoso. Di malam hari, sebelum pukul 21.00 WIB, ia akan mendatangi jasa pengiriman untuk mengirimkan pesanan kopi kepada pelanggan.

banner-ekspedisi-kopi

Ekspedisi Kopi Miko 2016

Tulisan ini pertama kali ditayangkan di sini.