Memangkas Jalur Distribusi Kopi

Secara teori, semakin ke hilir memasarkan komoditas pertanian maka semakin banyak nilai tambah yang diperoleh petani. Namun, tidak mudah mewujudkan praktek perdagangan yang demikian. Kebanyakan petani terkendala dengan kurangnya informasi tentang pasar, pengolahan hasil panen yang sederhana, serta kuantitas produksi yang sedikit, sehingga mereka memilih memasrahkan hasil produksinya kepada tengkulak.

Tetapi sekarang, dengan berkembangnya teknologi informasi melalui internet, membuat kesempatan untuk menjangkau konsumen menjadi lebih mungkin dilakukan oleh petani.

Keluarga Surata, petani kopi di Bondowoso, bisa menjadi salah satu contohnya. Produksi kopi arabika Ijen-Raung miliknya tidak hanya dipasrahkan kepada distributor yang datang ke daerahnya. Tetapi, ia juga memasarkan produk kopinya, yang bermerek Nurtanio Coffee, langsung kepada konsumen di luar daerah.

Jika biasanya distributor mengambil biji kopi basah, kini ia bisa memasarkan dalam bentuk bubuk kopi yang siap diseduh oleh konsumen di hilir. Untuk melakukan penjualan ini, Surata dibantu oleh anaknya yang lulusan STIKOM Surabaya, Haris Nurtanio (24 tahun), dalam memasarkan produk Nurtanio Coffee.

Haris mulanya menjual kopi dari pintu ke pintu, ke instansi-instansi lokal di daerah Bondowoso dan sekitarnya. Namun karena saingan dalam pemasaran ini terlalu banyak, dan tingkat keterjualan produknya relatif sedikit, Haris kemudian mencoba memasarkannya via internet.

Haris memasarkan Nurtanio Coffee dengan menggunakan marketplace online, Bukalapak dan Tokopedia.

Tim-Ekspedisi-Kopi-Miko-bersama-Haris-Nurtanio

Tim Ekspedisi Kopi Miko bersama Haris Nurtanio

Menjual kopi lewat online. Hanya sedikit petani yang sanggup dan berani melakukannya. Berbekal ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah, Haris memanfaatkan jalur ini. Ia paham jangkuan pemasaran ini justru lebih luas. Serta ia tidak harus berkeliling untuk memasarkan produk kopinya.

“Pesanan datang sendiri. Tidak rumit pula karena ongkos kirim pun sudah dihitungkan,” terangnya.

Seiring dengan waktu Kopi Nurtanio mulai mendapatkan pasarnya. Beberapa kedai kopi dan konsumen penikmat kopi mulai teratur memesan Nurtanio Coffee.

Seperti tanaman, pohon yang dirawat akan tumbuh dengan lebih baik. Demikian pula Haris mencoba memperlakukan pelanggannya. “Kualitas kopi harus terjaga. Juga stok harus tersedia sepanjang tahun,” katanya.

Dalam seminggu, Nurtanio Coffee terutama jenis Blue Mountain mampu terjual 50 bungkus dalam kemasan 175 gram. Perlahan tapi pasti, penjualan Nurtanio Coffee terus meningkat. Dalam sebulan, Haris kadang mampu menjual produk kopinya sebanyak 300 bungkus kopi.

Sembari menunggu pesanan kopi datang di lapak onlinenya, Haris masih bisa mengajar kelas multimedia dan menjalankan Nurtanio Music Studio and Coffee House yang baru dibukanya akhir Juli lalu di Jalan Kolonel Sugiono No 33, Bondowoso. Di malam hari, sebelum pukul 21.00 WIB, ia akan mendatangi jasa pengiriman untuk mengirimkan pesanan kopi kepada pelanggan.

banner-ekspedisi-kopi

Ekspedisi Kopi Miko 2016

Tulisan ini pertama kali ditayangkan di sini.

Menaksir Kesempurnaan Rasa Kopi

Sampel-Kopi-sudah-disangrai-dan-siap-untuk-digiling-halus-untuk-kemudian-dilakukan-uji-cita-rasa-kopi

Sampel Kopi sudah disangrai dan siap untuk digiling halus untuk kemudian dilakukan uji cita rasa kopi | © Rizki Akbari Savitri

Di Puslitkoka, kami diajak ke laboratorium uji citarasa.

Pak Yusianto sedang bertugas ketika kami datang siang itu. Lelaki dengan jambang lebat ini menggunakan celemek, tangan kanan memegang sendok dan tangan kirinya memegang wadah untuk menampung kopi yang sudah dicicip. Mangkuk-mangkuk berisi kopi berjajar, masing-masing tiga pasang. Ia berkeliling, mencicip satu per satu kopi.

Ia menunjuk satu mangkuk yang dinilainya memiliki aroma sweetnees yang kuat. “Iki beneran enak,” katanya kepada Dwi Nugroho, yuniornya sesama penguji citarasa kopi. Dwi juga mencicip kopi yang ditunjuk oleh Pak Yusianto. Setelah melakukan penilaian itu, keduanya mencatat hasilnya di selembar kertas.

Pengujian citarasa kopi dimaksudkan untuk mengetahui mutu kopi, ada atau tidaknya cacat citarasa seperti fermented, earthy, oily, dll. Pengujian juga untuk mengetahui profil citarasa kopi seperti aroma, flavor, body, acidity, dll. Penilian mutu kopi ini berguna bagi banyak pihak. Produsen kopi, misalnya petani/kelompok tani akan mengetahui mutu seduhan biji kopi yang dihasilkan dari kebunnya. Bagi eksportir dan importir bermanfaat untuk mengetahui apakah kopi layak untuk dibeli, dijual atau tidak. Sedangkan bagi roastery dapat memudahkan memilih kopi dengan mutu yang baik untuk kemudian diolah.

Penguji citarasa kopi akan memberikan catatan penilaian berupa angka untuk sampel kopi yang diuji. Setiap sampel yang diuji bersifat blind test. Supaya penilaian yang dihasilkan benar-benar obyektif. Form yang harus dinilai oleh seorang penguji citarasa di antaranya adalah fragrance dan aroma, flavor, after taste, acidity, body, balance, uniformity, clean cup, sweetness, dan overall.

Fragrance adalah pengujian bau bubuk kopi ketika masih kering. Aroma diketahui melalui bau kopi ketika diseduh air panas. Dalam pengujian aroma, ada istilah break, saat pertama kali diseduh selalu ada ampas yang terapung di atas. Nah itu kita singkirkan pelan-pelan ke pinggir gelas, kita hirup aromanya dalam-dalam. Itu yang dinamakan break.

Setelah itu, baru kopi diseruput dalam-dalam, biasanya berbunyi keras. Sruuuppp! Cara meminum seperti itu memungkinkan kopi dapat dirasakan di seluruh bagian lidah dan rongga mulut. Tindakan menyeruput keras dan dalam ini agar kopi dapat dinilai flavor-nya. Membutuhkan kerja indera perasa dan pembau yang maksimal. Sebab flavor menggambarkan karakter utama kopi.

Pengujian kemudian berlanjut ke aftertaste, kopi yang sudah diseruput tadi, kemudian dikeluarkan lagi, dan ditunggu beberapa saat. Apabila lidah masih merasakan flavor kopi tersebut maka nilai aftertastenya bagus.

Pengujian juga dilakukan untuk acidity untuk jenis kopi arabika. Apabila rasanya asam tinggi itu bukan berarti bernilai baik. Tingkat keasamaan yang bisa diterima oleh lidah itulah yang dinilai oleh seorang penguji. Sedangkan untuk kopi jenis robusta, penilaiannya adalah bitter. Terlampau pahit rasa yang diterima oleh lidah bukan berarti bernilai bagus.

Body. Didefinisikan sebagai kekentalan. Ada sampel kopi yang ketika diseruput rasanya ringan seperti meminum air putih. Ada pula yang kental terasa berat saat diseruput. Ketika sampel kopi yang diuji terasa berat, penilaian body termasuk bagus.

Balance, adalah kombinasi aspek-aspek flavor, aftertaste, acidity dan body sampel kopi yang diuji reratanya sama maka nilai balancenya bagus. Apabila ada satu aspek yang dominan, misalnya flavor maka nilai balancenya dikurangi.

Uniformity atau keseragaman. Sampel kopi yang diuji biasanya dilakukan dalam lima cup/mangkok. Jika dalam satu mangkok ada satu yang flavornya tidak sama maka nilainya 8. Jika semuanya sama, seragam rasanya maka nilainya sempurna, 10.

Clean cup, dirasakan sebagai kebersihan. Tidak adanya gangguan rasa dari pengujian flavor hingga ke rasa aftertaste. Rasa yang dimulai dari awal menyeruput, hingga membuangnya. Sweetnees, adalah kepenuhan rasa menyenangkan dari flavor sampel kopi yang diuji. Biasanya didefiniskan sebagai rasa manis. Overall, penilaian aspek ini didasarkan personal si penguji. Artinya penguji suka dengan sampel kopi ini ataukah tidak, dan skor yang diberikan dalam 1 – 10.

Aspek-aspek penilaian ini kemudian dijumlahkan dan dievaluasi kembali. Apabila hasilnya adalah angka 8 untuk kopi arabika berarti sampel kopi arabika itu termasuk kopi speciality. Sedangkan untuk robusta termasuk jenis fine robusta. Nilai sampel kopi yang diujikan di bawah 8 maka kopi tersebut tergolong good.

Secara sederhana, cara kerja untuk menilai mutu kopi ini digambarkan secara apik oleh Dwi Nugroho, bahwa kebaikan kopi dinilai bukan karena kesempurnaannya tetapi dari sedikitnya kecacatan.

banner-ekspedisi-kopi

Ekspedisi Kopi Miko 2016

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di sini.

Meningkatkan Harga Jual Kopi Rakyat

Sebelum mengenal proses pengolahan basah kopi, harga kopi hasil panen petani Sidomulyo selalu taksir rendah. Ini dikarenakan petani Sidomulyo masih mengandalkan proses pengolahan kering dan tidak dikelola dengan baik. Kopi hasil panen, petik merah, hijau dan kuning dicampur jadi satu dan kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari dengan alas terpal. Kopi dijemur di depan halaman rumah. Bercampur debu dan kadang asap kendaraan. Petani tak pernah meributkan hal ini, yang penting kopi mereka bisa laku dan utang modal bertani bisa terbayar. Entah itu kembali modal atau malah rugi.

Kelompok Tani Sidomulyo kemudian perlahan-lahan belajar cara panen kopi, pengolahan kopi hingga mengukur kadar air kopi. Bahkan sekarang sampai ke proses pengepakan menjadi bubuk kopi.

Petani-petani kopi di Sidomulyo sepertinya telah hapal teknik pengolahan kopi pascapanen. Pak Sunardi (41 tahun) adalah salah satu contohnya. Kopi yang sudah siap panen, dipetik dengan bantuan beberapa buruh petik. Biasanya 1 hektar kebun kopi membutuhkan 6 hingga 8 orang tenaga pemetik. Masa panen itu berlangsung mulai Juni hingga September. Setelah petik kopi dilakukan, dalam waktu minimal 15 hari berikutnya kopi sudah bisa dipanen kembali. Tanaman kopi robusta Sidomulyo idealnya dipetik sebanyak 4 kali.

Pak Sunardi bercerita tentang proses panen kopi. Proses petik kopi ini cukup membantu pemasukan bagi ibu-ibu rumah tangga di desanya. Tak sampai di situ saja, proses sortasi kopi juga membutuhkan bantuan buruh tani. Dalam sehari upah buruh saat panen kopi sekitar Rp30 ribu- Rp40 ribu, tergantung luasan kebun kopi.

Proses pengolahan pascapanen Kopi Sidomulyo ada dua. Kopi asalan dengan metode pengolahan kering, dan biji kopi hasil pengolahan basah. Kedua produk pascapanen kopi Sidomulyo itu diambil oleh PT. Indokom Citra Persada, salah satu eksportir kopi terbesar di Indonesia. Khusus untuk kopi hasil proses pengolahan basah kopi, mendapatkan harga lebih tinggi.

Untuk olah basah prosesnya dimulai dengan panenan kopi yang terkumpul ditimbang beratnya. Kemudian dimasukkan pulper, di mana hasilnya langsung difermentasi dalam bak khusus selama 24 jam. Setelah itu hasil fermentasi dijemur di bawah sinar matahari selama 1 hari. Setelahnya, kopi dikumpulkan untuk disortir. Kopi beras yang sudah kering dikemas dan selanjutnya diambil oleh PT. Indokom. Sedangkan kopi yang masih basah, dengan tampilan fisik kopi masih terbungkus kulit kambium, dimasukkan pulper dan hasilnya akan dikeringkan selama satu hari lagi. Hingga kadar airnya berada di bawah 20%.

Pengolahan kopi asalan atau dry process hasil panen petani Sidomulyo tak seketat proses pengolahan basah. Kopi hasil panen ditimbang dan kemudian dikeringkan selama 1 hari. Setelah dikemas akan diambil oleh PT. Indokom. Satu kilogram kopi asalan dihargai Rp23 ribu.

Proses pengolahan kopi robusta dengan metode wet process bernilai jual tinggi. Satu kilogramnya dihargai Rp30 hingga Rp40 ribu. Pak Sunardi, salah satu bagian operasional pengolahan kopi pascapanen bercerita, kopi robusta Sidomulyo dulunya hanya dihargai murah karena hanya menggunakan metode pengolahan kering, dijemur di atas terpal di depan rumah. Semenjak ada proses pengolahan basah kopi, kami petani kopi sedikit diuntungkan. Ditambah lagi, kini kami mempunyai pabrik pengolahan kopi pascapanen. Pabrik ini dinaungi oleh Koperasi Ketakasi hasil kerjasama dengan Disbun Jember dan Universitas Jember. Dengan adanya fasilitas dan ilmu untuk mengolah kopi pascapanen, kini petani Kopi Sidomulyo mampu menjual kopi bubuk olahan sendiri dengan label Kopi Ketakasi Sidomulyo.

Pak Sunardi melanjutkan ceritanya. Walau proses pengolahan kopi sudah dilakukan dengan baik, jumlah panen kopi sangat bergantung pada cuaca. Cuaca yang sangat panas justru malah merusak produktivitas tanaman kopi. Idealnya, dari luasan lahan 250 Ha yang ditanami kopi mampu menghasilkan 250 ton kopi. Atau perbandingannya 1 Ha menghasilkan 1 ton kopi. Tahun 2015 kemarin, kebun kopi di Sidomulyo mampu menghasilkan 250 ton kopi. Tahun ini produktivitas kopi berkurang, dari 250 Ha hanya mampu menghasilkan 200 ton kopi. Perubahan iklim menjadi salah satu faktor penting penurunan hasil panen kopi Sidomulyo.

Pabrik pengolahan kopi di Desa Sidomulyo sudah cukup lengkap. Pabrik ini baru berusia satu tahun. Ada pulper untuk mengelupas kulit ari kopi. Bak fermentasi juga sudah tersedia. Hingga alat roasting kopi berkapasitas 15 kg juga sudah tersedia, dan semuanya dijalankan oleh anggota Koperasi Ketakasi.

Progam penanaman kopi secara organik sedang digalakkan oleh Petani Kopi Sidomulyo. Sebanyak 25 Ha kebun kopi ditanami dan dirawat secara organik. Progam ini baru berjalan selama setahun. Dari 1 Ha kebun kopi organik untuk sementara ini masih menghasilkan 6 kuintal kopi. Harapannya tahun depan produktivitas kopi hasil kebun organik ini mampu menghasilkan dua kali lipat dari hasil panen sekarang.

banner-ekspedisi-kopi

Ekspedisi Kopi Miko 2016

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di sini.